Kamis, 12 November 2009

Lajang Kurang Menarik Dibanding yang Menikah

Kamis, 12 November 2009 | 15:58 WIB
KOMPAS.com - Para lajang harus membayar biaya sosial lebih tinggi di mata orang lain. Menurut  penelitian, para lajang dinilai kurang menarik, kurang bahagia, kurang hangat dan menyenangkan dibanding mereka yang menikah. Sebaliknya, orang lajang justru dinilai lebih berorientasi pada diri sendiri, dengki dan pemalu.

“Jelas ini tidak bisa diperdebatkan. Sebab begitulah orang menyimpan persepsi,” ujar Wendy Morris, seorang kandidat dokter di University of Virginia, dalam pertemuan tahunan American Psychological Association sebagaimana dikutip Reuters. 

"Tentu kita tidak bisa berasumsi semua lajang pemalu, dengki dan berorientasi pada diri sendiri. Apalagi tak kurang pula jumlah orang yang tak bahagia meski mereka menikah,” tambahnya.

Dalam penelitiannya, Morris meminta 55 mahasiswa untuk memberi penilaian terhadap orang berusia 25 hingga 40 tahun yang tetap lajang dan menikah. Penilaian dilakukan dengan ukuran hipotetis terhadap tingkat kebahagian, daya tarik, kemandirian dan sebagainya.

Secara siginifikan, para mahasiswa menilai orang yang menikah lebih bahagia, menarik, hangat dan menyenangkan. Sedang  para lajang memperoleh nilai sebaliknya. Perbedaan penilaian itu semakin lebar bila ditujukan pada mereka yang tetap lajang pada usia 40 tahun. Dibanding lajang yang masih berusia 25 tahun, para mahasiswa menganggap lajang yang sudah berusia 40 tahun semakin tidak menarik dibanding mereka yang sudah menikah.

Sisi yang menarik, “Para lajang ternyata dianggap lebih mandiri dan berorientasi pada karir dibanding yang menikah,” tutur Morris. Celakanya, inilah yang kemudian memunculkan anekdot di tempat kerja.  Karena para lajang lebih berorientasi pada karir, maka, “Mereka diharapkan lebih banyak menyelesaikan pekerjaan, tapi mereka yang menikahlah yang memperoleh promosi,” kata Morris. @ jjw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar